Jumat, 09 September 2011

RAPOR MERAH TIM NASIONAL, SALAH SIAPA? 
                 Kekalahan beruntun yang dialami Timnas Indonesia dalam ajang PPD zona Asia grup E, masing-masing kalah dari Iran(3-0), dan dipermalukan Bahrain (0-2), menyisakan pertanyaan besar bagi para pecinta sepakbola ditanah air. Siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini? Harapan, impian dan cita-cita pecinta sepakbola di seluruh Indonesia yang sempat membahana usai gelaran piala AFF desember silam, sepertinya semakin memudar. Bagaimana tidak, disaat mimpi itu membumbung tinggi,justru permainan Timnas kita melempem. Dari dua laga yang telah dijalani Bambang Pamungkas cs,tak satupun yang berujung kemenangan. Lebih parahnya, pemain Indonesia seperti bermain tanpa motivasi dan spirit pantang menyerah seperti yang ditunjukan di piala AFF silam. Kekalahan dari tim tangguh Asia macam Iran, mungkin masih bisa kita terima. Bermain dikandang lawan dan dipaksa harus bertahan total, sudah barang tentu menunjukan bahwa kualitas permainan kita memang masih satu level dibawah mereka. Namun kekalahan dari Bahrain, selasa(6/9) kemarin sungguh sangat menyesakan dada. Bermain di dibawah puluhan ribu pasang mata, yang menjejali stadion Gelora Bung Karno dan ratusan juta pasang mata diseluruh tanah air, ternyata tak begitu menolong skuad asuhan Wim Risjbergen. BP cs harus keluar lapangan dengan kepala tertunduk usai dipencundangi tamu mereka, Baahrain. Negara yang notabene pada piala Asia 2007 silam sempat kita tundukan. Lalu, apa yang terjadi dengan Timnas kita? Usai laga ini, perhatian pecinta sepakbola langsung tertuju pada sosok sang pelatih, Wim Risjbergen. Pria belanda 59 tahun, yang juga pernah menukangi PSM makasar di LPI, dianggap sebagai tokoh utama dibalik melempemnya peforma BP cs. Sejak penunjukannya juli silam,memang sudah menuai banyak kontroversi. Pemecatan pelatih sebelumnya Afreid Reidel (yang justru dimata pecinta sepakbola nasional dianggap sukses mengangkat peforma permainan BP cs) secara sepihak oleh kepengurusan PSSi era Djohar Arifin sangat janggal. Alasan yang dikemukakan oleh para petinggi PSSI-pun agak mengada-ada, hanya karena tidak ditemukannya surat kontrak antara Reidel dengan kepengurusan lama era Nurdin Halid. Mungkin hal itulah yang mengawali sederet keputusan controversial yang justru merugikan tim kebanggan seluruh rakyat Indonesia. Tenggat waktu yang sangat singkat, antara pemecatan Reidel, penunjukan Wim Risjbergen dengan laga perdana Timnas di ajang PPD melawan Turkhemenistan sangatlah mepet. Wim, yang notabene orang baru di persepakbolaan tanah air langsung dibebani tugas berat, untuk meloloskan timnas ke babak selanjutnya. Mungkin, tak perlu mempertanyakan kapasitas wim sebagai seorang pelatih, karena pengalamannya membawa Trindan And Tobaco lolos ke putaran final PD 2006 adalah bukti sahih kualitasnya. Tapi jelas akan sangat berbeda ketika kita melihat dari segi pengetahuannya tentang sepakbola nasional, Indonesia bukan Negara-negara mapan sepakbola macam Inggris ataupun Italia yang dengan mudah beradaptasi denga strategi maupun pola ke[pelatihan pelatih baru. Timnas kita jauh lebih membutuhkan perbaikan dari segi visi dan teknik permainan. Pernyataan Wim usai ditekuk Bahrain selasa kemarin, semakin menguatkan arus ketidakpercayaan terhadap dirinya. Dia beralasan kekalahan yang diderita Timnas adlah kesalahan para pemain, para pemain indonesia dianggap belum bisa berlaga di level internasioanal. Lebih menyakitkan lagi, ketika mendengan perkataannya di ruang agnti pemain ketika jeda babak 1, “f**ck you all, jika kalian tak bermain lebih baik di babak kedua, saya akan menendang kalian semua dari tim ini”. Tidak cukup disitu saja luapan emosi Wim, ketika konferensi pers usai laga, Wim juga mengatakan bahwa tim ini bukan pilihannya, karena dia hanya meneruskan pelatih sebelumnya. Aksi membabi buta pernyataan Wim, terlihat seakan-akan dia iningin lepas tanggung jawab begitu saja. Lalu, benarkah semua pernyataan pelatih ini? Jika kita menilik kebelakang, ketika gelaran Piala AFF silam, tim ini adalah tim sama, dan tim ini pula yang membangkitkan semngat nasionalisme seluruh suporter kita. Lalu, apa yang terjadi dengan tim ini. Permainan timnas memang patut dievaluasi. Tapi menyalahkan para pemain bukanlah hal yang tepat, kita juga patut mempertanyakaan kredibilitas Wim. Kemampuannya menerapkan strategi dan mengetahui kemampuan seluruh pemain timnas adalah titik lemahnya. Jika kita menilik kebelakang, kemenangan Timnas kita atas Thurkemenistan tidak lepas dari bantuan Rahmad Darmawan. Kita bisa membacanya,mulai dari penunjukan pemain dan penerapan strategi. Lalu dimana peran Wim saat itu, idealismenya mulai terlihat ketika Timnas kita telah unggul 4-1. Wim memaksakan pola warisan leluhurnya di Belanda sana, dengan skema 4-3-3 yang dia usung, justru timnas harus kebobolan dua gol. Ini adalah PR besar bagi pengurus PSSI, sekarang tingal mereka mau mengedepankan kepentingan bangsa atau hanya kepentingan segelintir orang, yang memaksakan kehendaknya dibalik penunjukan Wim. Masih ada waktu sebulan lebih untuk mempersiapkan tim ini untuk laga berikutnya melawan Qatar. Kita lihat apa yang akan dilakukan oleh PSSI. Atau haruskah seluruh suporter Indonesia kembali turun ke jalan untuk menyadarkan para petingi PSSI kita?