Vandalisme adalah suatu sikap kebiasaan yang dialamatkan kepada bangsa Vandal, pada zaman Romawi Kuno, yang budayanya antara lain: perusakan yang kejam dan penistaan segalanya yang indah atau terpuji. Tindakan yang termasuk di dalam vandalisme lainnya adalah perusakan kriminal, pencacatan, grafiti, dan hal-hal lainnya yang mengganggu mata.(munurut http://id.wikipedia.org/)
Jika menilik arti harafiah kata vandalisme tersebut, maka kata inilah yang sangat tepat untuk menggambarakan carut marutnya persepakbolaan nasional. Kita mulai dari arti secara garis besarnya, vandalisme merupakan hal-hal yang mengganggu mata. Dalam sepakbola Indonesia, sepertinya sudah sesuatu yang sangat wajar ketika mendapati banyak hal yang menggangu mata. Di mulai dari fasilitas dan kelayakan stadion tempat pertandingan berlangsung. Hampir seluruh stadion di negeri kita ini tak layak pakai, lihatlah kualitas rumput yang buruk, lapangan yang bergelombang, sampai dreinase yang memprihatinkan. Sehingga ketika hujan turun, terjadi genangan air disana-sini dan lumpur yang begitu banyak. Membuat lapangan ini tak ubahnya seperti sawah tadah hujan. Kondisi ini diperparah dengan fasilitas di dalam stadion. Tak tersedianya fasilitas umum yang memadai, semakin mengurangi kenyamanan mata para penonton. Sebutlah toilet yang bau, sampai tribun penonton yang seakan-akan tempat pembuangan akhir sampah, kotor dan tak terawat. Tapi bukan berarti semua stadion di Indonesia seperti ini. Ada beberapa stadion yang telah memenuhi standar Internasional, Gelora Bung Karno, Jaka Baring, dan Si Jalak Harupat adalah beberapa di antaranya.
Belum usai masalah stadion, pandangan mata kita kembali terusik saat pertandingan berlangsung. Permainan tak berteknik bahkan menjurus kasar semakin membuat pertandingan tidak enak untuk ditonton. Apalagi ketika kepemimpinan sang pengadil yang terkesan “aneh”, maka hujan botol air mineral, plastik, bahkan batu akan melintasi mata kita. Tak jarang kita pun akan dengan gratis menyaksikan ulah ndeso para pemain di lapangan, adu jotos misalnya. Yang notabene sangat diharamkan dalam olahraga ini.
Aksi vandalisme dalam sepak bola Indonesia tak berhenti disitu saja. Animo masyarakat kita yang begitu besar terhadap olah raga ini, terkadang menimbulkan paham fanatik yang terlalu sempit. Ketika ekspektasi terhadap kemenangan Tim kebanggaan tak terwujud, terkadang para penikmat sepak bola ini meninggalkan akal sehat mereka. Tak jarang mereka meluapkan rasa kekecewaan dengan hal-hal anarkis, bahkan mengarah ke tindakan kriminal. Sudah terlalu sering kita mendengar ataupun melihat tawuran antar suporter. Parahnya, mereka tak hanya saling serang satu sama lain. Warga sekitar yang tak tahu menahu kadang dijadikan pelampiasan kemarahan.
Rangkaian aksi vandalisme seperti inilah yang semakin menciderai persepak bolaan nasional. Seakan-akan tak pernah belajar dari masa lalu, hal ini terus saja berulang. Seharusnya, kita bahu membahu membangun persepak bolaan nasional ke arah yang lebih baik, bukanya ramai-ramai memperburuk citra dunia sepak bola tanah air. Sorotan buruk terhadap sepak bola Indonesia akan semakin menengelamkan prestasi sepak bola kita di mata Internasiaonal. Yang notabene sudah tak berbekas. Sudah waktunya kita semua bangun dari ketertinggalan, dan mulai berlari mengejar mimpi sepak bola Indonesia. Prestasi adalah harga mati…karena hanya itu yang bisa mengikis preseden buruk terhadap dunia persepak bolaan kita. Maka benahilah semua kekurangan dan hentikan semua tindakan yang tak berguna. Bukankah akan begitu menyenangkan, ketika sepak bola bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarkat tanpa batasan umur, jenis kelamin, ataupun strata sosial. Untuk itu mulai saat ini bersama-sama kita cegah dan hentikan semua aksi vandalisme dalam sepak bola Indonesia.